Deretan bambu menari menggerakan daun sebagai jemari. Long longan serigala bak melodi merdu iringi langkah kakimu yang kini hanya terdengar bisiknya saja di telinga. Rindu masih belum bisa dijabarkan dalam beberapa lembar kertas sebagai bentuk essai kala sang pena menolak bunuh diri
Angin berburu masuk ke hati, berat ku hembuskan sebagai luka. Air langit memercik ke pipi, darah segar mengalir di permukaan bibir tapi tak bisa menghentikan alirnya. Ini tentang setia laksana asap yang tak pernah padam selagi api masih menyala
Yang ku tanya pada semut seksi di sebelah kursi, bagaimana bisa yang tak pernah datang tiba tiba pergi? Kilat turun seketika, cahayanya bak jepretan fotografer profesional juga serupa dengan kedipan matahari siang yang menyadarkanku bahwa tiada pesta hujan malam ini. Lantas, yang tadi itu apa?

No comments: