Terkadang aku menganggap bahwa tulisanku layaknya sampah. Aku bisa membuangnya di mana saja, bisa pada tempatnya, di alir sungai, di tepi jalan atau bahkan tepat tertimpuk di wajahmu (tenang, pilihan terakhir hanya akan dilakukan jika dalam keadaan terdesak saja ahaha)
Seperti halnya sampah yang terbuang, setiap sampah punya nasibnya sendiri sendiri. Ada yang melihat dari sudut negatif, hingga saat menemukannya ia membakarnya menjadi abu tanpa sisa. Ada yang dari sudut positif, menjadikannya lebih bermanfaat, didaur ulang, dijual kembali, dsb.
Namun terkadang saya dibuat risih oleh si penemu sampah yang keponya sudah berlebih, hingga mencari tahu siapa pemilik sampah itu, di mana tinggalnya, apa latar belakangnya, apa alasannya membuang sampah? Haruskah sedetail itu?
halah... Siapa yang tahu jika hal itu membuat si pembuang sampah ketakutan hingga membuat KTP berulang ulang dengan data berbeda^^

No comments: