Aku masih terisak di sudut kamar, mengingat apa yang baru saja terjadi. Dirimu sudah berlalu di persimpangan jalan depan namun sepucuk surat undangan yang kau hantar bertuliskan namamu dan namanya masih kugenggam dengan erat.
Tidak mudah, untukku menahan diri agar tak menghubungimu, menahan diri untuk tak menyapamu terlebih dahulu, menahan diri untuk tak tergesa berujar rindu. Waktu berlalu...
Kemarin baru saja kutolak untuk kesekian kalinya pinangan ikhwan sholeh, karena apa? Karena aku merasa masih ada hati yang harus kujaga, itu hatimu. Namun sia sia, sungguh setan maha tipu daya, aku menjaga hati untuk hati yang kau sendiri tak menjaganya.
Memang tiada kesepakatan untuk saling menunggu di antara kita, namun hangat sapamu tempo dulu mungkin aku yang terlalu gegabah mengartikannya cinta. Hingga saat takdir tergaris, kecewa jua yang kurasa.
Harusnya aku tidak terlalu percaya diri, menjadi satu dari bagian masa depan yang kau rencanakan. Harusnya kuikuti titah abi, untuk mendahulukan siapa yang lebih memberi kepastian.
Ah biarlah, biar kini kujalani hingga sang maha menetapkan bersedia menghapuskan. Biarlah, biar kini kujalani hingga kutemui bahagiaku sendiri, bersama qadar Rabbi.

No comments: