Aku dan adik adalah penyuka kucing. Seperti halnya aku yang dulu murung berhari hari disebabkan kucingku mati tak sengaja memakan racun tikus dari rumah tetangga, adikku juga ternyata bisa sedih saat kucingnya berjalan sempoyongan karena ditimpuk orang, padahal dia lelaki.
Sebenarnya teringin membeli sejenis kucing Ras mahal yang cantik dipandang, si kucing bulu pendek tebal, si pesek ingusan yang tak berkeliaran sembarang di luaran, yang tak bisa dimiliki semua orang. Bukan hal yang tidak mungkin jika diniatkan dan menabung sedikit demi sedikit.
Ah menyenangkan sekali membayangkan dapat memilikinya, terbayang pula di benakku raut sumringah adik.
Namun semuanya buyar saat menyaksikan, seekor kucing kampung sibuk mengorek tong sampah untuk mencari makan, bisa jadi dia adalah ibu kucing yang anak anaknya juga sedang kelaparan. Kucing kampung lain menyusup ke rumah makan, bermanja pada si tuan berharap ada sisa makanan yang terbuang atau justru disuguhkan dengan penuh kerelaan.
Kalaulah nasib mereka sedang baik, jika sedang tak mujur bisa jadi yang didapat adalah cacian, tendangan, pengusiran kasar oleh para manusia yang tidak berkeprihewanan dan tidak berprikekucingan.
Di situ saya berpikir ulang, jika uang yang ditabung banyak hanya dapat membeli seekor kucing ras dan biaya perawatannya, mungkin jika dibelikan ikan asin bisa dapat berkarung karung untuk persediaan makan mereka, kucing kampung selama setahun.
Kelak kita harus mengambil kesepakatan tentang ini, dik. Agar kakakmu berhenti dari kegalauan tak berujung.

No comments: