"Jadi di antara kalian siapa yang terlebih dahulu jatuh cinta?" Cucu yang satu ini memang punya ketertarikan berlebih tentang kisah kita sewaktu muda.
"Ambu, sayang. Abahmu itu orangnya cuek." Jawabku.
Kau membantah seketika, "Tidak. Abah lah yang pertama, hanya Ambu mu yang terlambat untuk mengakui bahwa hatinya juga merasa hal yang sama."
Keadaan hening sejenak lalu kita tertawa hampir bersamaan.
"Bahkan kami lupa kapan pertama kali saling jatuh cinta. Yang kami ingat ketika memutuskan untuk bersama atas restu-Nya, kami akan akan melahirkan generasi penerus yang sholeh, sholehah, cerdas, menjunjung tinggi agama serta bermanfaat bagi sesamanya. Dan kamu sayang, kamulah salah satunya."
Bulir bening samar telihat oleh mataku yang mulai rabun. Ia menetes dari mata cucu kita. Tangan bersuhu dingin perlahan menggenggam jemariku. Aku tahu itu milikmu, berpuluh tahun bersama cinta kita tak pernah pudar sedikitpun.

No comments: