Hari ini aku pulang lambat saat ibu menyambutku dengan wajah murung.
"Ibu marah? Maaf, tadi Kakak ada liqo di sekolah."
"Ah tidak. Cuma, anu... Kak."
"Kenapa? Dedek mana?"
"Ada, dia tidur. Anu... Mmm... Ayahmu belum pulang. Kak... Kami belum makan." Badanku gemetar seketika, pandanganku kosong, pikiranku melayang. Jadi, adikku tidur dalam keadaan lapar? Apakah obatnya sudah terminum?
Di samping menjadi petani Ayah memang aktif di kesenian, jika manggung di luar kota, ia jarang sekali pulang. Sementara, semenjak adik sakit dan perlu perawatan khusus, hidup menuntutku untuk mandiri.
Aku sengaja, inisiatif mendaftarkan diri lewat SKTM begitu naik kelas 2 Sekolah Menengah, sehingga IPP-ku gratis. Untuk uang jajan, waktu istirahat kakiku akan mulai menjajakkan dagangan ke depan pintu kelas, menjadi reseller para guru dengan untung lumayan. Setidaknya orangtuaku bisa fokus pada adikku saja.
Tapi sungguh, ini benar benar di luar dugaan, ada penyesalan kenapa tadi tidak absen saja agar pulang cepat. Ah sudahlah. Tanganku merogoh saku. ternyata hanya ada dua puluh rima ribu saja. Kami saling tatap agak lama.
"Hanya ini, Bu." Sambil menyerahkan uang dua puluh ribu.
"Kakak besok sekolah gimana? Ayah belum tentu pulang."
"Ah, kan ini ada lima ribu. Berangkat dua kali naik angkot cuma empat ribu dan masih ada sisa. Besok kakak jualan lagi Bu. Insya Allah, ada uang untuk pulang. Oh iya, nanti makan duluan saja ya, kakak capek."
"Kak..." Ibu memegang lenganku erat. "Nanti pasti Ibu ganti." Tiba tiba air mata hadir di antara kami.

No comments: