Ksatria Pilihan

"Neng, kemarin ada yang datang lagi. Tapi kamu gak ada, bapak udah capek. Kamu maunya yang gimana sih? Perempuan itu jangan banyak nolak, pamali." Ujar bapak di ruang tamu, sepulang aku kerja.

"Abisan katanya manager, ditanya Allah di mana dia gak tahu. Katanya sekolah tinggi tapi ditest ngaji terbata bata, katanya paham banyak ilmu agama tapi celananya isbal, alasannya kan gak sombong. Neng, bukan hanya mencari calon imam pak tapi calon ayah." Jawabku.

"Bapak paham, tapi kamu juga kan gak sholehah banget sih neng."

"Justru itu, neng perlu banyak bimbingan atuh, pak. Jangan Sampai terbalik."

"Yasudah, besok ia datang lagi. Semoga kali ini sesuai harapanmu. Tapi bapak sih ragu, anaknya belum dapat kerjaan tetap juga. Gimana bisa bahagiain kamu. Ckck" Bapak menyeruput kopinya.

"Insya Allah, lihat besok ya pak." Aku cepat cepat masuk ke kamar, dengan hati berdebar. Kira kira pemuda seperti apa kali ini, sebenarnya aku juga sudah lelah, pak. Hanya saja aku tidak ingin bermain main dalam hal ini.

Malam berlalu begitu cepat, esok harinya datang seorang pemuda memasuki pintu rumahku. Aku, ibu dan bapak serentak berdiri menyambutnya. Pandanganku menunduk, seperti biasa aku melihat celananya, "Alhamdulillah gak isbal" bisikku dalam hati. Setidaknya ini permulaan yang baik.

"Silahkan Jang, jika ada yang mau ditanyakan. Mumpung neng nya ada." Pinta bapak pada pemuda itu. Sementara aku masih menundukan pandangan sama sekali tidak berani melihat wajahnya dari awal ia datang.

"Tidak ada, pak, saya sudah lama kenal sama putri bapak." Jawabnya mengagetkanku. Perlahan aku mengangkat pandangan, sebuah senyuman menyambut hangat tatapanku. "Hai, Num. Apa kabar?" Tanya seseorang yang sudah tidak asing lagi bagiku. Dulu bahkan kami pernah dekat meski sekelebat.

"Masya Allah. Ka.. Kamu..!"keadaan mulai hening sejenak, aku keringat dingin.

"Alhamdulillah, jadi sudah saling kenal nih ya. Neng ada yang mau ditanyakan?" Bapak mencoba memecahkan suasana.

"Eh mmm iya, iya pak, Saya mau mengajukan dua saja pak. Pertama, kenapa kamu seberani ini padahal belum punya persiapan, belum mapan? Kedua, perhatikan baik baik ucapan saya, A'UDZUBILLAH. Apa yang salah dari kata itu?"

"Yang pertama bapak masih paham, yang kedua kamu yang aneh. Mana ada yang aneh dengan itu?" Kening bapak mengerut.

"Tidak apa pak. Biar saya jawab, sebenarnya saya bisa saja kredit rumah dan mobil agar terlihat mapan di mata keluargamu namun maaf saya sangat berhati hati dari riba. Kedua, cara pengucapanmu yang salah. Kau hilangkan senyum antara A'U dan DZU dan itu fatal dari ilmu tajwid bisa mengubah makna."

"Bagaimana Neng?" Bapak menatapku agak lama.

Pipiku memerah seketika, dengan menarik nafas panjang pelan tapi pasti aku menjawab "Bismillah, pinanganmu aku terima."

"Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmus shalihaat." Sahutnya legs.

Hatiku mulai dipenuhi taman bunga, bapak dan ibu ikut tersenyum dalam herannya.

Ksatria Pilihan Ksatria Pilihan Reviewed by Hanum on January 22, 2017 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.