Alkisah, dua penulis *alay saling jatuh cinta dan ditakdirkan untuk bersama dalam restu-Nya. Karena satu dan lain hal, beberapa hari mereka terpaksa berjauhan. Si suami mengingatkan istrinya mandi.
"Nyonyaku, kau tahu pasti bahwa aku selalu menerima segala kurang dan lebihmu. Bahkan aku hafal betul seperti apa bau keringatmu. Ini bukan tentang wajib cantik atau tidaknya kamu, tapi tolong demi terkabulnya mimpi kita untuk menua bersama, jangan biarkan bakteri itu menggerogotimu. Basuhlah mereka, hempaskan dari indah lekuk tubuhmu."
Eh, si istri kebetulan lagi malas mandi. Maka dengan santainya ia membalas,
"Oh Tuan yang sekarang sudah resmi kumiliki. Tahukah? Tanpamu di sisi, air dingin semakin dingin, air hangat hambar adanya. Berikan sedikit waktu agar bakteri itu mempersiapkan kematiannya."

No comments: