Kepadamu, ksatria yang suatu hari akan datang dengan gagahnya menjemputku dalam kehalalan. Mengalahkan pangeran yang hanya pandai berangan tapi tak punya keberanian. Harus kau ketahui bahwa;
Wanita tetap wanita, dalam bijakku sesekali aku kan manja. Dalam sabarku sesekali kan nampak menjengkelkan jua. Aku tak sesempurna itu. Aku bukan bidadari dan engkau juga bukan malaikat kan?
Akan ada masa di mana engkau merasa kesal, maka jangan membentakku terlalu keras atau aku akan menangis mengingat ayahku yang selalu bertutur kata lemah lembut nan halus.
Akan ada masa di mana engkau merasa jengkel, maka jangan memelototiku terlalu lama atau aku akan menangis mengingat ayahku yang selalu memandangku sendu.
Akan ada masa di mana kau hilang kesabaran atasku, maka jangan kau ringankan tanganmu atau aku akan tersedu mengingat bahwa tangan ayahku hanya dipergunakan untuk membelai bukan memukuli.
Pada akhirnya jika engkau menyakitiku, aku hanya bisa mematung, bertahan seorang diri. Bagaimana bisa aku mengadu pada ayahku perihal kelakuanmu sementara saat ijab di qabul serah terima pertanggung jawaban telah sah. Bagaimana bisa aku mengadukanmu, sementara saat ijab di qabul, ridhomu adalah surga dan nerakaku.
Jika suatu hari aku tampak demikian menjengkelkan biarlah diam sebagai pertanda marahmu kepadaku. Dengan bekal keimanan, aku kan datang meminta maaf, membujuk segala rajuk, merayu engkau kembali dengan kasih tulus illahi. Kepadamu duhai, jika kelak kita bersama dalam takdirNya, kumohon jangan sakiti aku.

No comments: