"Kak, jadi belajar masak gak?" Tiba tiba Ibu berdiri di pintu kamar memandangiku yang masih asik duduk di meja rias.
"Jadi, Bu. Bentar ini kantung matanya kelihatan gini ya, duh enaknya dipoles pake apa? Terus lipsticknya udah habis, nanti kelihatan pucat."
"Subhanallah, Kak. Kakak berdandan untuk siapa jika sejatinya suami saja belum punya?"
"Eh.. Anu Bu.."
"Begini sayang." Perlahan Ibu mendekatiku, membelai pundakku halus. "Kau tahu apa yang membuat Ayahmu selalu ingat pulang? Bukan karena semata ingin memandangi wajah Ibumu ini, di luar sana jelas Ayah lebih banyak bertemu dengan perempuan cantik."
"Lalu..."
"Ayahmu bilang pada Ibu, Istriku, sungguh tak kutemukan satu masakan pun di luar sana yang menandingi lezatnya masakanmu. Meski kau hanya membuat telor dadar ekstrak kasih sayang." Wajahku pula yang memerah tiba tiba.
"Kak..." Lanjut Ibu. "Suatu hari perempuan yang bisa membedakan lipstick lima ribu dengan lima ratus ribu akan kalah dengan yang bisa membedakan kencur, lengkuas, kemiri, kunyit dan jahe."

No comments: