Dahulu kala, para penggemar sastra lebih tertarik pada hasil karya daripada identitas sastrawan itu sendiri. Karya hanya dipublikasi lewat buku. Hingga mereka harus menunggu sampai yang bersangkutan bersedia menuliskan biografi atau autobiografinya jika tidak maka ikhlaskan mereka menjadi anon dan selamanya misterius. Pada seni musik anonim sering ditulis NN atau No Name.
Dewasa kini, setelah memasuki dunia teknologi yang semakin canggih dan virus KEPO (Knowing Every Particular Object) menyerang, orang orang bisa dengan mudahnya mengupload karya mereka di sosial media. Namun miris, yang menyembunyikan identitas malah dibilang aneh, fake akun atau bahkan disebut "Kloningan".
Saya sendiri belum paham apa itu kloningan sampai sampai harus bertanya pada Mbah Google. Menurut Mbah, akun kloningan yaitu akun yang dibuat persis hanya untuk menjatuhkan akun asli atau akun palsu yang digunakan untuk menghujat.
Nah, kalau orangnya asli dan postingannya bermanfaat hanya saja ia menyembunyikan sebagian identitas atau bahkan seluruhnya tolong panggil mereka anon saja bukan kloning.
Pada sebagian orang saya berkata, "Dalam sastra, pura puralah untuk tidak mengenal saya meskipun sebenarnya kita bersaudara". Lalu kucing kucingan dengan orang baru yang ingin bertemu dan mual jika ada yang bertanya, "kamu pemilik akun itu?" Karena itu juga sahabat senior saya yang sudah berhasil menulis empat buku Antologi menyamakan saya dengan Ilanna Tan dalam sebuah tulisan di blogNya.
Bukan! Bukan sama dalam karya best sellernya yang bahkan untuk antologi saja saya belum pernah. Tapi dalam kerahasiaan identitas. Halah, saya mah apa atuh kak tidak sepenuhnya anon.
Banyak alasan kenapa seseoang memilih menjadi anonim. Saya? Saya sendiri berpendapat menjadi bermanfaat tidak perlu terkenal dan menjadi berguna tidak harus selalu haus popularitas. Ingin diperlakukan sama, tidak diistimewakan. Namanya juga pendapat, beda kepala beda pemikiran kan ya?
Terkahir, biarkan para Anon tenang dengan privasinya, sekian.

No comments: