Anak Sejuta Rumah

Ia menyita perhatianku. Lengan mungil mendekap erat kedua lututnya. Mengigil, pucat pasi. Entahlah, naluri seorang kakak tidak pernah bisa dibohongi, langkah kaki semakin mendekatkan aku kepadanya.

"Kamu kenapa dik? sakit?" Tanyaku dengan nada suara hampir  tak terdengar, tertelan gemuruh hujan.

Yang ditanya hanya menggeleng pelan, lalu mengusap perutnya sendiri. Ia tertunduk.

"Kamu lapar? tapi kakak cuma punya ini."

Dua bungkus roti aku keluarkan dari ranselku. Malu malu ia mengambilnya. Dan tahu apa? Roti yang sudah terasa bosan aku santap itu kini terlihat begitu lezat di mulut tipisnya.

"Rumahmu di mana? Biar kakak antar pulang."

"Di sini, di sana, di sana. Terkadang di sana juga." Tunjuk si Anak pada tiap tiap emper pertokoan. Aku mengerutkan keningku.

"Kakak yang baik, Aku sering melihat rumah tapi bukan rumah. Setiap tempat di mana aku bisa tidur di atas tanahnya itulah rumahku. Aku sering melihat makanan tapi bukan makanan. Apa apa yang masuk ke mulutku itulah makananku, meski hanya udara dan cipratan air hujan."

Aku memalingkan wajah, "Sial! Dalam hawa sesejuk ini pun, sempat sempatnya bola mata berkeringat." bisikku dalam hati.

Anak Sejuta Rumah Anak Sejuta Rumah Reviewed by Hanum on January 22, 2017 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.